Senin, 23 November 2009 - 20:38:42 WIB
Keluarga dalam Pandangan Islam
Diposting oleh : ina yanuar rukmayanti
Kategori: Ilmu Keluarga
- Dibaca: 168 kali
Keluarga dalam Pandangan Islam
Penulis : Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah.
Syaithan begitu berambisi dalam merusak sebuah keluarga. Berbagai upaya
ditempuh untuk mencapai ambisinya itu. Ini disebabkan keluarga
merupakan pondasi bagi terbentuknya masyarakat muslim yang berkualitas.
Setiap manusia tentu mendambakan keamanan dan mereka berlomba-lomba
untuk mewujudkannya dengan setiap jalan dan cara yang memungkinkan.
Rasa aman ini lebih mereka butuhkan di atas kebutuhan makanan. Karena
itu Islam memperhatikan hal ini dengan cara membina manusia sebagai
bagian dari masyarakat di atas akidah yang lurus disertai akhlak yang
mulia. Bersamaan dengan itu, pembinaan individu-individu manusia tidak
mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada wadah dan lingkungan
yang baik. Dari sudut inilah kita dapat melihat nilai sebuah keluarga.
Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan
Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan
meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga
dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar perhatian
Islam? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata
pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah
iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu
meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Bila pondasi ini kuat, lurus agama dan akhlak anggotanya maka akan kuat
pula masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan. Sebaliknya,
bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni
anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat, bagaimana
kegoncangan melanda dan rapuhnya kekuatan sehingga tidak diperoleh rasa
aman.
Dengan keterangan di atas pahamlah kita kenapa musuh-musuh Allah dari
kalangan syaitan jin dan manusia begitu berambisi untuk menghancurkan
kehidupan keluarga. Mereka bantu-membantu menyisipkan kebatilan ke
dalam keluarga agar apa yang diharapkan Islam dari sebuah keluarga
tidak terwujud. Dan sangat disesalkan ibarat gayung bersambut,
kebatilan itu banyak diserap oleh keluarga muslim. Akibatnya tatanan
rumah tangga hancur dan dampaknya masyarakat diantar ke bibir jurang
kehancuran. Naudzubillah min dzalik!!! Kita berlindung kepada Allah
dari yang demikian.
Jauh sebelumnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah
memperingatkan kita akan makar iblis terhadap anak Adam. Bagaimana
iblis begitu bergembira bila anak buahnya dapat menghancurkan sebuah
keluarga, memutuskan hubungan antara suami dengan istri sebagai dua
tonggak dalam kehidupan keluarga.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia
mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka
dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.
Datang salah seorang dari mereka seraya berkata: Aku telah melakukan
ini dan itu. Maka Iblis menjawab: Engkau belum melakukan apa-apa.
Lalu datang yang lain seraya berkata: Tidaklah aku meninggalkan dia
(manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan
istrinya. Maka Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan
dirinya dan memujinya dengan berkata: Ya, engkaulah. (Hadits riwayat
Muslim dalam Shahihnya, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Naar, Bab
Tahrisyu Asy Syaithan wa Ba`tsuhu Sarayahu Li Fitnatin Naas, 17/157-
Syarah Nawawi)
Dalam Syarah Shahih Muslim (17/157) berkata Imam Nawawi rahimahullah
menjelaskan hadits di atas bahwa Iblis bermarkas di lautan dan dari
situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji
anak buahnya yang berhasil memisahkan antara suami dengan istrinya
karena kagum dengan apa yang dilakukannya dan ia dapat mencapai puncak
tujuan yang dikehendaki iblis.
Sebegitu kuat ambisi iblis dan para syaitan sebagai tentaranya untuk
menghancurkan kehidupan keluarga hingga mereka bersedia membantu
syaitan dari kalangan manusia untuk mengerjakan sihir yang dapat
memisahkan suami dengan istrinya. Allah Ta`ala berfirman menyebutkan
ihwal orang–orang Yahudi yang biasa melakukan pekerjaan kufur ini
(sihir) guna memisahkan pasangan suami istri:
Orang-orang Yahudi itu mengikuti apa yang dibacakan para syaitan pada
masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu
mengerjakan sihir) padahal Sulaiman tidaklah kafir (mengerjakan sihir)
namun syaitan- syaitan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir
kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil
yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada
seorangpun sebelum keduanya mengatakan: Kami hanyalah ujian (cobaan)
bagimu maka janganlah engkau kufur dengan belajar sihir. Maka mereka
mempelajari sihir dari keduanya yang dengan sihir tersebut mereka bisa
memisahkan antara suami dengan istrinya… (Al Baqarah: 102)
Kita berlindung kepada Allah ta`ala dari kejahatan sihir dan pelakunya!
Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta`ala… ketahuilah, suatu keluarga
baru memiliki nilai lebih bila bangunan keluarga itu ditegakkan di atas
dasar takwa kepada Allah Ta`ala.
Untuk kepentingan ini perlu dipersiapkan anggota keluarga yang shalih,
tentunya dimulai dari pasangan suami istri. Seorang pria ketika akan
menikah hendaknya mempersiapkan diri dan melihat kemampuan dirinya. Dia
harus membekali diri dengan ilmu agama agar dapat memfungsikan dirinya
sebagai qawwam (pemimpin) yang baik dalam rumah tangga.
Karena Allah Ta`ala telah menetapkan:
Kaum pria itu adalah pemimpin atas kaum wanita disebabkan Allah telah
melebihkan sebagian mereka (melebihkan kaum pria) di atas sebagian yang
lain (di atas kaum wanita) dan karena kaum pria telah membelanjakan
harta-harta mereka untuk menghidupi wanita…. ( An Nisa: 34)
Hendaknya seorang pria menjatuhkan pilihan hidupnya kepada wanita yang
shalihah karena demikian yang dituntunkan oleh Nabi kita yang mulia
Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda tentang kelebihan wanita yang shalihah:
Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah
wanita shalihah . (HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Ar Radlaa`, Bab
Istihbaab Nikaahil Bikr. 10/56, Syarah Nawawi)
Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah,
tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan
(kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari
kesengsaraan: tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah),
tunggangan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit. (HR. Ibnu
Hibban. Hadits ini dishahihkan Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab
beliau Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fish Shahihain 1/277)
Beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan:
Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya,
kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah
wanita yang memiliki agama, taribat yadaak . (HR. Bukhari dalam
Shahihnya no. 5090, Kitab An Nikah, bab Al Akfaau fid Dien, dan Muslim
dalam Shahihnya, Kitab Ar Radla, bab Istihbaab Nikahi Dzatid Dien,
10/51, Syarah Nawawi)
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang benar tentang makna
hadits di atas adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan
tentang kebiasaan yang dilakukan manusia. Mereka ketika hendak menikah
memilih wanita dengan melihat empat perkara tersebut dan mereka
mengakhirkan pertimbangan agama si wanita . Maka hendaklah engkau wahai
orang yang meminta bimbingan memilih wanita yang baik agamanya. (Shahih
Muslim bi Syarhin Nawawi, 10/51-52)
Imam Nawawi melanjutkan: Dalam hadits ini ada hasungan untuk
bergaul/berteman dengan orang yang memiliki agama baik dalam segala
sesuatu karena berteman dengan mereka bisa mengambil faedah dari akhlak
mereka, barakah mereka dan baiknya jalan hidup mereka, di samping itu
kita aman dari kerusakan yang ditimbulkan mereka. (10/52)
Masalah agama ini juga harus menjadi pertimbangan seorang wanita ketika
ia memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria, karena pria yang
shalih ini bila mencintai istrinya maka ia akan memuliakannya, namun
bila ia tidak mencintai istrinya maka ia tidak akan menghinakannya. Dan
hal ini harus menjadi perhatian wali si wanita karena Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda :
Apabila datang kepada kalian (para wali wanita) orang yang kalian
ridla agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita yang di bawah
perwalian kalian) maka nikahkanlah laki-laki itu, kalau tidak kalian
lakukan hal tersebut niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan
terjadi kerusakan yang merata. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dll)
Di antara yang dijadikan Islam sebagai tujuan berumah tangga dan
dibentuknya sebuah keluarga adalah untuk memperbanyak umat Muhammad
shallallahu alaihi wasallam. Karena itu ketika datang seorang pria
menghadap beliau dan mengatakan : Aku mendapatkan seorang wanita yang
memiliki kecantikan dan keturunan namun ia tidak dapat melahirkan
(mandul), apakah boleh aku menikahinya ? Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam menjawab: Jangan menikahinya. Kemudian pria tadi datang
menghadap Nabi untuk kedua kalinya dan mengutarakan keinginannya untuk
menikahi wanita tersebut, namun beliau melarangnya. Kemudian ia datang
lagi untuk ketiga kalinya, maka beliau shallallahu alaihi wasallam
bersabda :
Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (banyak
anaknya) karena aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di
hadapan umat-umat yang lain. (HR. Abu Daud dan Nasai. Dishahihkan oleh
Syaikh Muqbil dalam Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fis Shahihain
2/211)
Bila setiap muslim memperhatikan dan melaksanakan dengan baik apa yang
ditetapkan dan digariskan oleh syariat agamanya niscaya ia akan
mendapatkan kelurusan dan ketenangan dalam hidupnya, termasuk dalam
kehidupan berkeluarga. Dan dia benar-benar dapat merasakan tanda
kekuasaan Allah ta`ala sebagaimana dalam firman-Nya;
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian
pasangan-pasangan kalian dari diri-diri (jenis) kalian sendiri agar
kalian merasa tenang dengan keberadaaan mereka dan Dia menjadikan di
antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda–tanda bagi kaum yang mau
berfikir. (Ar Ruum: 21 )
Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.
(Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah)
sumber: darussunah.or.id 
0 Komentar :
Isi Komentar :